2 Benda Besar Muncul Dalam Pencarian AirAsia di Laut Jawa


Baru-baru ini telah diberitakan bahwa telah ditemukan 2 benda logam besar dalam pencarian pesawat AirAsia di Laut Jawa, menurut kepala Search Indonesia dan Badan SAR, Bambang Soelistyo. Benda-benda yang ditemukan menggunakan sistem deteksi logam yang dimiliki oleh kapal kapal Indonesia.

Objek pertama berukuran 9,2 x 4,6 x 0,5 meter, dan yang kedua berukuran 7,2 x 0,5 meter. Sebuah Vehicle Remote Control (Robot Nir Kabel) telah dikirim ke dasar laut untuk mengambil gambar object tersebut.

Pencarian Pesawat AirAsia QZ8501 terus berlanjut sampai sabtu ini dan diberitakan telah menemukan indikasi berupa cairan bahan bakar minyak yang mengapung di zona pencarian. USS SAMPSON adalah salah satu dari beberapa kapal yang terlibat dalam pencarian di Laut Jawa, kata Angkatan Laut AS. pada hari Jumat. 

Sementara ini total mayat yang ditemukan adalah 30 jiwa. Kepala SAR Indonesia Bambang Sulistyo mengatakan, minyak bahan bakar pesawat ditemukan di Selat Karimata. "Kami melihat slicks minyak mengapung di sana," katanya.

Menemukan "kotak hitam" pesawat itu adalah prioritas kami (tim pencarian). Ada 59 tim penyelam yang terlibat, 22 orang dari Rusia, The Country's Ministry of Emergency Situations mengatakan, Moskow juga mengirimkan sebuah pesawat pencarian dan jet kargo.

Pihak berwenang Indonesia telah mengidentifikasi empat mayat yang ditemukan, korban pertama adalah seorang wanita bernama Hayati Lutfiah Hamid, asal Indonesia yang dimakamkan hari kamis kemarin.

CEO AirAsia Tony Fernandes mengatakan ia pergi ke Surabaya untuk mengantarkan jenazah yang bernama Khairunisa Haidar Fauzi ke keluarganya."Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya, saya tidak bisa berkata apa-apa", kata dia di twitter. 2 jenazah lain yang diidentifikasi adalah Grayson Herbert Linaksita dan Kevin Alexander Soetjipto, kata pihak berwenang Indonesia.


Upaya pencarian terkonsentrasi di zona yang meliputi 5.400 kilometer persegi dan pemerintah Indonesia optimis bisa menemukan sisa-sisa pesawat.

Apa yang kita tahu adalah pesawat tersebut berangkat Minggu pagi dari Surabaya menuju Singapura, kira-kira setelah 35 menit penerbangan pilot meminta izin kontrol lalu lintas udara untuk belok kiri dan naik untuk menghindari cuaca buruk, namun beberapa menit kemudian pesawat menghilang dari radar lalu lintas udara tersebut.

Sementara itu, yang tidak kita ketahui adalah apa yang terjadi setelah kehilangan kontak dengan pesawat? Otoritas penerbangan Indonesia telah menyarankan bahwa pesawat naik meskipun izin lalu lintas ditolak. Beberapa ahli berspekulasi bahwa pesawat tersebut mengalami stall aerodinamis karena kurangnya kecepatan atau sudut terbang untuk mendapatkan cukup angkatan terlalu tajam. Analist juga berspekulasi mungkin pilot belum mendapatkan informasi dari sistem onboard tentang posisi pesawat, atau munkin juga hujan es yang menyertai badai telah merusak mesin pesawat. Namun teori mereka belum mendapat dukungan kuat selama box hitam dan bagian utama pesawat yang lain belum ditemukan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال