Petualangan kami dimulai dari penerbangan Terminal B Bandara Adisucipto Yogyakarta menuju Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Blusukan ini merupakan petualangan saya yang paling mengesankan dan paling extrim sejauh ini, sebab saya harus berada di tengah-tengah hutan sawit dan karet, belum lagi harus berurusan dengan petugas keamanan kebun yang bisa dibilang extrim, tanpa upeti rokok you tak bisa masuk atau tak bisa keluar dari wilayahnya. Namun tidak semua warga pribumi di sana se-ekstrim itu, hanya saja Anda juga perlu mawasdiri dan tetap hati-hati, kalo istilah jawa menyebutnya "PAPAN EMPAN ADEPAN."
Area keraja saya berada di wilayah Peninggalan, Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Indonesia. Di situ saya membantu teman saya mengerjakan proyek topografi, guna memetakan wilayah tersebut. Saya tidak sendiri, tim kami beranggotakan 4 orang, dimana tanggung jawab Topografi dipegang oleh teman saya bernama Yanuar asli Madiun, Lulusan Teknik Geodesi UGM 2013, dan saya sebagai helpernya, sedangkan tanggung jawab Photogrammetry dipegang oleh mas Eka sebagai Pilot UAV fix wing drone - Sky Walker dan dibantu temannya yang bernama mas Imam, keduanya asli Purwokerto yang mana kalo gak ngapak ora kepenak.
Target tim kami untuk Topografi adalah 20 titik static mode menggunakan Navcom GNSS, sedangkan tim Photogrammetry 6 kali flight. Seiring berjalannya waktu berbagai macam kendala kian bermunculan, hari pertama kami mendapati driver yang kurang cekatan yang mengakibatkan tengah hari kami cuman dapat 2 titik, untungnya koordinator dari tim Geologi bapak Asep berinisiatif menggantinya dengan driver baru yang lebih oke, hingga terpaksa hari pertama kami harus sampai larut malam untuk bisa menyelesaikan 10 titik. Sementara itu dari tim Photogrammetry mengalami kendala cuaca yang memang tidak bisa di ganggu gugat lagi yaitu hujan deras sangat.
Basecamp kami menjadi satu bersama tim Geologi yang beranggotakan 24 orang. Mereka datang lebih awal satu bulan sebelumnya dan menyewa pemukiman warga untuk dijadikan basecamp kerja. Mengenai MCK bisa dibilang sangat-sangat memprihatinkan, karena kebiasaan warga disana melakukannya di sungai yang tidak begitu mengalir dan airnya juga tidak terlalu jernih. Kesan pertama kami saat tiba disana adalah "Semoga kami bisa segera menyelesaikan pekerjaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya" dan cepat-cepat PULAAAAANG.
Baik saya kira tidak perlu bertele-tele, semoga dokumentasi ini bisa mewakili cerita panjang kami.
Photostory:

Videostory:
Hari Pertama
Hari Kedua

