IQ (Intelligence Quotient) VS EQ (Emotional Quotient)

IQ (Intelligence Quotient) VS EQ (Emotional Quotient)
IQ (Intelligence Quotient) VS EQ (Emotional Quotient)
Hallo teman, 
Sebelum kalian membaca artikel ini seluruhnya, ada baiknya jika kalian terlebih dahulu menguji kemampuan masing-masing melalui situs relevan berikut ini :

Nah bagaimanakah hasilnya? 
Apapun hasilnya sukurilah, bagi kalian yang mendapatkan hasil istimewa silakan berbangga hati namun jangan lengah sebab kualitas intelegensi bisa juga menurun karena beberapa faktor, sedangkan yang mendapatkan hasil yang pas-pasan bahkan di bawah rata-rata, tidak perlu cemas, berikut ini adalah beberapa tips bagaimana meningkatkan kecerdasan dan momori.

Alhamdulillah, senang mengetahui hasil seperti ini, yang membuat saya senang bukanlah skornya, melainkan bukti nyata dari hasil penelitian dan solusi yang diberikan oleh para Ahli yaitu, ternyata kemampuan intelegensi yang baik itu tidak semata hasil dari keturunan, meskipun hal itu juga salah satu faktor yang mempengaruhi, namun bukan berarti kemampuannya tidak bisa ditingkatkan, ternyata saya merasakannya sendiri, hasil tersebut bukanlah rekayasa, murni apa adanya, tanpa ada perencanaan dan terget, ternyata tanpa saya sadari kebiasaan saya tahun belakangan ini mampu meningkatkan intelegensi saya hingga skor 119, yang tahun sebelumnya adalah 85.

Tes IQ yang digunakan oleh sejumlah perusahaan adalah untuk membantu mengetahui atau mengukur seberapa baik pola pikir Abstrak maupun Logis yang dimiliki oleh para pekerja mereka. Seperti yang Kalian tahu, bahwa banyak kasus para pencari kerja baru tidak lolos dalam tes masuk kerja bahkan yang tidak melalui tes tertulis pun kadang juga mengalami kegagalan pertamanya, hal seperti itu sudah biasa, karena mungkin ada pelamar lain dengan kemampuan yang perlu dipertimbangkan dan biasanya pelamar dengan kemampuan seperti itu memiliki jam terbang dan pengalaman yang lebih tentang berbagai macam tes tertulis maupun tes verbal, kalian tidak perlu cemas, sebab kalian juga bisa melakukan hal yang sama, butuh waktu berapa lama?, semua itu tergantung kalian, tapi yang jelas lakukanlah secara bertahap, maka perlahan bagian-bagian otak Kalian akan terlatih.

Untuk memaksimalkan potensi yang kalian miliki, maka penting untuk selalu menjamin pasokan darah, oksigen serta nutrisi yang cukup. Hal ini dapat diketahui dari sampel penelitian terhadap penggiat aerobik dengan rata-rata durasi 20 menit dan dilakukan secara signifikan, hasilnya bisa meningkatkan kemampuan berpikir dan memori otak, sebab kegiatan ini bisa merangsang produksi hormon pertumbuhan yang diperlukan untuk mengembalikan sel-sel saraf. Selanjutnya, kalian juga perlu mengurangi kegiatan yang bisa memicu stress, sebab dapat mengganggu pembentukan neurotransmitter untuk memori yang lebih baik.

Cara lain yang lebih mudah juga bisa kalian lakukan seperti senam pernapasan. Hanya dengan menarik napas perlahan-lahan sampai hitungan ke 8, lalu menahannya selama 12 hitungan dan lepas perlahan-lahan sambil menghembuskan napas hingga 10 hitungan.

Jika Kalian memiliki perkerjaan tetap, pastikan bahwa punggung Kalian lurus seperti itu secara signifikan agar suplai darah ke otak lebih lancar, sempatkan juga untuk berdiri sementara waktu. Cara ini sudah terbukti secara ilmiah bahwa posisi stand-up meningkatkan kemampuan belajar dan berpikir hingga 30%.

Tidak kalah pentingnya, pastikan juga bahwa asupan gizi Kalian terpenuhi, nasehat ini sepele namun sering diremehkan, padahal penelitian menunjukan bahwa hal tersebut dapat membantu meningkatkan IQ Kalian hingga 10 poin bahkan lebih.

Tingkatan/Parameter IQ secara umum:

Idiot IQ (0-29)
Adalah kelompok individu yang paling terbelakang, tidak bisa berbicara maksudnya hanya bisa berbicara beberapa kata saja, perkembangan Intelegensinya sama dengan anak normal 2 tahun dan rentan terhadap penyakit.

Imbecile IQ (30-40)
Kelompok individu ini setingkat lebih tinggi dari anak idiot. Ia hanya mampu belajar bahasa dengan latihan ringan, intelegensinya setara anak normal usia 3-7 tahun.

Moron atau Debil IQ / Mentally retarted (50-69)
Kelompok individu ini masih bisa belajar membaca, menulis, membuat perhitungan sederhana dan bisa juga diberikan pekerjaan rutin yang tidak memerlukan perencanaan maupun pemencahan masalah. Biasanya kelompok ini mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah luar biasa.

Kelompok bodoh IQ dull/ bordeline (70-79)
Kelompok individu ini berada diatas kelompok terbelakang lainnya namun masih di bawah kelompok normal. Biasanya kelompok ini kepayahan mengikuti pendidikan SLTP dan tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA, bukan karena biaya namun karena kemampuan intelegensinya belum mencukupi.

Normal rendah (below avarage), IQ 80-89
Adalah kelompok individu dengan kemampuan intelegensi rata-rata bawah, biasanya mengalami kepayahan dalam menyelesaikan tugas-tugas jenjang SLTA/SMA.

Normal sedang, IQ 90-109
Adalah kelompok dengan kemampuan rata-rata sedang, dan individu ini adalah kelompok dengan presentase terbesar dalam populasi penduduk.

Normal tinggi (above average) IQ 110-119
Adalah kelompok individu dengan kemampuan intelegensi setingkat lebih baik diatas rata-rata.

Cerdas (superior), IQ 120-129
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik dan biasanya memimpin di kelas normal/biasa, jadi individu ini merupakan yang terbaik di kelas intelegensi normal.

Sangat cerdas (very superior/ gifted), IQ 130-139
sangat Superior, kelompok individu ini lebih cakap dalam membaca dan mempunyai pengetahuan yang sangat baik tentang bilangan, perbendaharaan kata yang luas dan cepat dalam memahami pengertian yang abstrak. Pada umumnya, kesehatan dan ketangkasannya lebih menonjol dibandingkan anak normal.

Genius IQ 140 > (diatas 140)
Kelompok individu dengan kemampuan luar biasa, umumnya mampu menyelesaikan masalah-masalah baru atau mampu mempelajari dan menemukan sesuatu yang baru meski tidak ada yang mengajarinya biasanya adalah para ilmuan, peneliti, dan para penemu.

Uraian di atas adalah menjelaskan tentang tingkat intelegensi secara kognitif, dengan sudut pandang yang masih klasik. Berbeda dengan sudut pandang baru-baru ini, banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan individu untuk mencapai kualitas optimal. Pandangan tersebut menjelaskan bahwa faktor paling dominan yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam hidupnya adalah kecerdasan emosional, jadi bukan saja kecerdasan intelektual semata. Seorang pakar Emotional Intelegence bernama Daniel Goleman menjelaskan, bahwa berdasarkan pengamatannya terhadap beberapa sampel orang, ternyata kegagalan mereka cenderung bukan karena intelektualnya rendah, melainkan karena kecerdasan emosionalnya rendah.

Dewasa ini kecerdasan emosional semakin diperhatikan, dipahami dan dimiliki oleh setiap individu, sebab dalam perkembangan kehidupan saat ini membuat permasalahan semakin kompleks, Daniel Goleman mengemukakan hasil surveinya terhadap para orang tua dan guru, yaitu rata-rata generasi sekarang susah mengontrol emosinya, mereka lebih mudah kesepian, pemurung, bringas, tidak tahu etika, mudah gugup, mudah cemas, lebih impulsif dan agresif, sangat berbeda sekali dengan generasi sebelumnya. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال