| Merneptah dan Ramses 2 |
Kelahiran Musa
Nabi Musa lahir di Mesir 1527 SM pada pemerintahan Merneptah, pendapat lain mengatakan Ramses Akbar atau Thutmosis atau Firaun.Meninggal di Gunung Nebo, dataran Moab, tepi timur Sungai Yordan 1407 SM pada usia 120 tahun. Musa adalah seorang pemimpin dan Nabi orang israel yang menyampaikan Hukum Taurat dan menuliskannya dalam Pentateveh/Pentateukh (5 Kitab Taurat) dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Nabi Musa di tugaskan untuk membawa Bani Israil (Israel) keluar dari Mesir. Nama beliau disebutkan sebanyak 136 kali di dalam Al-Quran.
| Taurat dalam Gulungan dan Buku |
Silsilah Musa
![]() |
| Silsilah Para Nabi dan Rosul (Klik Untuk Memperbesar) |
Musa bin Imran bin Fahis bin 'Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra'u bin Falij bin 'Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh. Sedangkan nama ibunda Musa memiliki nama Yukabad, pendapat lain mengatakan namanya adalah Yuhanaz Bilzal.[63] Kemudian Musa menikah dengan puteri Syu’aib yaitu Shafura (Shafrawa/Safora/Zepoporah) dan memiliki keturunan berjumlah 4 orang, mereka adalah Alozar, Fakhkakh, Mitha, Yasin, Ilyas.
Dalam kisah Nabi Muhammad saat perjalanan menuju ke Sidrat al-Muntaha dan sampai ke langit Al-Khaliishah (Keenam), Beliau (Muhammad) melihat Musa memiliki postur tinggi dan kekar, berambut lebat, berjenggot putih dan panjang hingga menutupi dadanya, sembari memegang tongkat.
Firaun Bermimpi
Bertepatan dengan kelahiran Musa, Firaun mendapatkan mimpi buruk seperti "Mesir terbakar dan penduduknya mati, kecuali Bani Israel." selanjutnya mimpi itu ia konsultasikan pada paranormalnya. Alhasil paranormal itu menafsirkan bahwa kekuasaan Fir'aun akan jatuh di tangan seorang laki-laki dari bangsa Israel. Karena cemas, dia memerintahkan setiap rumah digeledah dan jika menemukan bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh.
Saat Yukabad melahirkan Musa, ia cemas, sebab telah mengetahui peraturan Firaun tentang keharusan membunuh bayi laki-laki yang baru lahir saat itu. Yukabad akhirnya berpesan kepada keluarganya untuk merahasiakan tentang kelahiran Musa. Rahasia ini terjaga hingga Musa berusia 3 bulan, setelah itu Yukabad mendapat Ilham dari Allah agar menghanyutkan musa diatas sungai Nil.
"...dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul." (Al-Qashash 28:7).
![]() |
| Sungai Nil |
Kemudian Musa ditemukan oleh Asiyah istri Firaun, yang sedang mandi dan kemudian membawanya ke istana. Melihat istrinya membawa seorang bayi laki-laki, Firaun ingin membunuh Musa. Istrinyapun berkata: “Jangan membunuh anak ini karena aku menyayanginya. Lebih baik kita mengasuhnya seperti anak kita sendiri karena aku tidak mempunyai anak.” Dengan kata-kata dari istrinya tersebut, Firaun tidak sampai hati untuk membunuh Musa.
"...dan berkatalah isteri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari." (Al-Qashash 28:9).
Musa Kembali ke Pangkuan Ibunya
Singkat Asiyah (istri Firaun) mencari pengasuh, namun tidak seorangpun wanita di kerajaan yang bisa menyusui dengan baik, Musa terus menangis dan tidak mau disusui. Selepas itu, ibunya mendengar sayembara itu dan mengajukan diri untuk mengasuh dan membesarkannya di istana Firaun.
"Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (Al-Qashash 28:13).
Musa Memakan Bara Api
Pada suatu hari, Firaun memangku Musa yang masih kanak-kanak, tetapi tiba-tiba janggutnya ditarik Musa hingga dia kesakitan, lalu berkata: “Wahai istriku, mungkin anak inilah yang akan menjatuhkan kekuasaanku.” Istrinya berkata: “Sabarlah, dia masih anak-anak, belum berakal dan belum mengetahui apa pun.” Karena Firaun tidak percaya, akhirnya dia menguji Musa dengan sajian Roti dan Bara api, diceritakan di dalam hadist bahwa sebenarnya Musa berniat mengambil Roti akan tetapi oleh malaikat dialihkanlah sehingga tangannya memegang Bara Api kemudian memakannya, sejak itulah menjadi Cadal dan selamat dari ancaman Firaun.
Sejak berusia tiga bulan hingga dewasa Musa tinggal di istana itu sehingga orang memanggilnya Musa bin Firaun. Nama Musa sendiri diberikan oleh keluarga Firaun. “Mu” berarti air dan “sa” adalah tempat penemuannya di tepi sungai Nil.
Musa Membunuh Rojul (seorang laki-laki)
Bermula saat musa sedang melihat-lihat di sekitar kota Memphis (Nama Berhala), ia melihat dua laki-laki sedang berkelahi, masing-masing dari kalangan Bani Israel bernama Samiri dan bangsa Mesir bernama Fatun, seketika Ia ingin mendamaikan mereka akan tetapi ditepis oleh Fatun, spontan Musa langsung memukul kepala Fatun, hanya satu pukulan Fatun pun tewas. Sebab tindakannya itu, Musa kemudian meminta ampun kepada Allah sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur'an;
Musa berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Qashash 28:16).
Musa Menikah
Tak lama berselang, kasus pembunuhannya diketahui oleh masyarakat desa hingga kabar itu sampai di telinga Firaun, akhirnya Firaun mengutus anak buahnya untuk menangkap Musa. Karena terdesak Musa akhirnya lari dari Mesir, perjalannya tak tentu arah dan tujuan sampai 8 hari, tibalah dia di kota Madyan, yaitu kotanya Nabi Syu'aib di timur Semenanjung Sinai dan Teluk Aqabah di selatan Palestina. Musa tinggal di rumah Nabi Syu'aib cukup lama, sehingga Ia menikah dengan anak perempuannya Nabi Syu'aib bernama Shafura. Selepas menjalani kehidupan berkeluarga di Madyan.
Musa Pulang ke Mesir
Musa meminta izin kepada Syu'aib untuk pulang ke Mesir. Dalam perjalanan itu, sesampainya di Bukit Sinai, Musa melihat Api, dia berpikir bahwa api itu bisa digunakannya untuk obor guna menerangi perjalanannya. Sejenak Musa meninggalkan istrinya untuk mendapatkan api tersebut. sesampainya di puncak, Musa melihat api itu menyala di batang pohon tetapi tidak membakar pohon itu, Musa pun bingung, lantas terdengarlah suara Wahyu Allah “....Wahai Musa sesungguhnya Aku Allah, yaitu Tuhan semesta alam.” “...dan lemparkan tongkatmu, apabila tongkat itu menjadi ular (Musa melihatnya bergerak seperti seekor ular, dia mundur tanpa menoleh) Wahai Musa datanglah kepada-Ku, janganlah kamu takut, sungguh kamu termasuk orang yang aman.” “...Masukkan tanganmu ke leher bajumu, pasti keluar putih bersinar dan dekapkan kedua tanganmu ke dada kerana takut....”
Demikian itulah mukjizat yang dikaruniakan oleh Allah kepada Musa; fisik kuat, tongkat ular, dan tangan bersinar.
Firaun marah ketika mendengar Musa pulang dengan membawa ajaran baru, merasa martabatnya jatuh ia akhirnya menantang Musa untuk membuktikan bahwa Ia (Musa) benar-benar utusan Allah. Firaun mengutus para penyihirnya untuk bertanding melawan Musa, Para penyihir melemparkan tali mereka dan berubah jadi ular, selanjutnya disusul oleh Musa setelah mendapatkan wahyu oleh Allah : “...dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, pasti ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanya tipu daya tukang sihir dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja ia datang.”
Musa pun melemparkan tongkatnya dan berubah menjadi ular besar kemudian memakan seluruh ular milik penyihir tadi, para penyihirpun terheran-heran melihatnya, hingga beberapa diantara mereka insaf. Mendengar hal itu Firaun marah dan menghukum mereka (Musa dan pengikutnya) tak terkecuali istri Firaun sendiri yang dibunuh dengan cara keji (disalip dan ditusuk kemaluannya dengan benda tajam).
Nabi Musa bersama pengikutnya terpakasa melarikan diri hingga sampai di Laut Merah. Namun, Firaun dan tentaranya masih mengejar mereka dari belakang. Nabi Musa pun mendapatkan wahyu dari Allah: “...dan ingatlah ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan Firaun dan pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (Al Baqarah 2:50).
Seketika Musa memukulkan tongkatnya ke laut merah dan terbelahlah laut tersebut, Musa dan pengikutnya lari menyeberangi lautan tersebut, hingga sampailah mereka di tepian seberang laut merah sedang Firaun dan tentaranya masih di tengah lautan, maka Allah menutup kembali laut merah tersebut. Pada akhirnya Firaun dan tentaranya mati tenggelam di laut merah.
| Peta Laut Merah |
![]() |
| Laut Merah Via Satelit |
Jasad Firaun Masih Utuh
Dan inilah alasan kenapa hanya jasad Firaun yang masih utuh sementara bala tentaranya tidak. Allah berfirman dalam surat Yunus ayat 91-92;
10:91. "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."
10:92. "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."
Bahkan sebab kekafirannya yang melampaui batas, bumi pun enggan memakan jasadnya. Dan Allah berkehendak agar hal itu bisa menjadi peringatan bagi koum setelahnya (termasuk kita).
![]() |
| Fosil Roda Kereta Kencana Firaun |
![]() |
| Fosil Jasat Firaun |
![]() |
| Fosil Firaun Dalam Musium |
Musa bermunajat di Bukit Sina
Selepas keluar dari Mesir, Nabi Musa bersama sebahagian pengikutnya dari kalangan Bani Israel menuju ke Bukit Sina untuk mendapatkan kitab panduan dari Allah. Namun, sebelum itu Musa disyaratkan berpuasa selama 30 hari di bulan Zulkaedah. Ketika mahu bermunajat, dia merasa bau mulutnya kurang menyenangkan. Ia menggosok gigi dan mengunyah daun kayu (siwakan), lalu perbuatannya ditegur malaikat dan dia diwajibkan berpuasa 10 hari lagi. Dengan itu puasa Musa genap 40 hari.
Sewaktu bermunajat, Musa berkata: “Ya Tuhanku, nampakkanlah zat-Mu kepadaku supaya aku dapat melihatMu.” Allah berfirman: “Engkau tidak akan sanggup melihatKu, tetapi coba lihat bukit itu. Jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya seperti sediakala, maka niscaya engkau dapat melihatku.” Musa terus memandang ke arah bukit yang dimaksudkan itu dan dengan tiba-tiba bukit itu hancur hingga masuk ke perut bumi, tanpa meninggalkan bekasnya. Musa terperanjat dan gementar seluruh tubuh lalu pingsan.
10 Perintah Allah Kepada Musa
Ketika sadar, Musa terus bertasbih dan memuji Allah seraya berkata: "Maha besar Engkau ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku maka aku akan menjadi hamba yang pertama iman kepadaMU." Saat itulah Allah menurunkan kitab Taurat kepadanya. Menurut ahli tafsir, ketika kitab itu berbentuk kepingan batu atau kayu, yang diturunkan secara terperinci dan bertahap. Total sebanyak 10 perintah, yaitu:
- Akulah Tuhan, Allahmu. Jangan ada padamu tuhan lain selain-Ku.
- Jangan membuat bagimu patung (sembahan) yang menyerupai apapun.
- Jangan menyebut nama Tuhan: Allahmu, dengan sembarangan.
- Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
- Hormatilah ayah dan ibumu.
- Jangan membunuh.
- Jangan berzina.
- Jangan mencuri.
- Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
- Jangan mengingini milik sesamamu (mengingini istri, atau hamba laki-lakinya, atau hamba perempuannya, atau lembunya, atau keledainya, atau hartanya, atau apapun yang dipunyai sesamamu).
Samiri dan Berhalanya
Sebelum Musa pergi ke bukit itu, dia berjanji kepada kaumnya tidak akan meninggalkan mereka lebih 30 hari. Tetapi Nabi Musa tertunda 10 hari, karena terpaksa mencukupkan 40 hari puasa. Bani Israel kecewa dengan keterlambatan Musa itu. Ketiadaan Musa membuatkan mereka seolah-olah dalam kegelapan dan ada diantara mereka yang berfikir keterlaluan dengan menyangka dia tidak akan kembali lagi.
Dalam keadaan tidak menentu itu, seorang ahli sihir dari kalangan mereka bernama Samiri mengambil kesempatan menyebarkan perbuatan syirik. Dia juga mengatakan Musa tersesat dalam mencari tuhan dan tidak akan kembali. Ketika itu juga, Samiri membuat anak sapi dari emas. Dia memasukkan segumpal tanah, bekas dilalui tapak kaki kuda Jibril ketika mengetuai Musa dan pengikutnya menyeberangi Laut Merah.
Patung itu dijadikan Samiri bersuara. (Menurut cerita, ketika Musa dengan kudanya mau menyeberangi Laut Merah bersama kaumnya, Jibril ada di depan terlebih dulu dengan menaiki kuda betina, kemudian diikuti kuda jantan yang dinaiki Musa dan pengikutnya. Kemudian Samiri menyeru kepada orang ramai: “Wahai kawan-kawanku, rupanya Musa sudah tidak ada lagi dan tidak ada gunanya kita menyembah Tuhan Musa itu. Sekarang, mari kita sembah anak sapi yang diperbuatkan daripada emas ini. Ia dapat bersuara dan inilah tuhan kita yang patut disembah.”
Selepas itu, Musa kembali dan melihat kaumnya menyembah patung anak sapi. Ia marah dengan tindakan Samiri. Firman Allah: “Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: wahai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang baik? Apakah sudah lama masa berlalu itu bagimu (lupa?!) atau kamu menghendaki supaya kemurkaan Tuhanmu menimpamu?!, kerana itu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku.”
Musa bertanya kepada Samiri, seperti diceritakan dalam al-Quran: “Berkata Musa; apakah yang mendorongmu berbuat demikian Samiri? Samiri menjawab: Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam tanah (bekas tapak Jibril) lalu aku masukkan dalam patung anak sapi itu. Demikianlah aku menuruti dorongan nafsuku.”
Kemudian Musa berkata: “Pergilah kamu dan pengikutmu daripadaku, patung anak sapi itu akan aku bakar dan lemparkannya ke laut, sesungguhnya engkau akan mendapat siksa.”
"..dan ingatlah ketika kamu berkata: Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedangkan kamu menyaksikannya. Selepas itu Kami bangkitkan kamu selepas mati, supaya kamu bersyukur." (Al-Baqarah 2:55-56).
Telah banyak nikamat yang diberikan oleh Allah kepada mereka akan tetapi mereka kufur (tidak mau bersyukur). Nikmat-nikmat tersebut diantaranya adalah:
Malahan mereka banyak alasan dan membelakangi wahyu Allah kepada Musa supaya berpindah ke Palestina. Alasannya karena mereka takut menghadapi suku Kan’an. Sikap Bani Israel yang pengecut itu menyedihkan hati Musa, lalu dia berdoa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka pisahkanlah kami dari orang fasik yang mengingkari nikmat dan kurnia-Mu.”
Dalam keadaan tidak menentu itu, seorang ahli sihir dari kalangan mereka bernama Samiri mengambil kesempatan menyebarkan perbuatan syirik. Dia juga mengatakan Musa tersesat dalam mencari tuhan dan tidak akan kembali. Ketika itu juga, Samiri membuat anak sapi dari emas. Dia memasukkan segumpal tanah, bekas dilalui tapak kaki kuda Jibril ketika mengetuai Musa dan pengikutnya menyeberangi Laut Merah.
Patung itu dijadikan Samiri bersuara. (Menurut cerita, ketika Musa dengan kudanya mau menyeberangi Laut Merah bersama kaumnya, Jibril ada di depan terlebih dulu dengan menaiki kuda betina, kemudian diikuti kuda jantan yang dinaiki Musa dan pengikutnya. Kemudian Samiri menyeru kepada orang ramai: “Wahai kawan-kawanku, rupanya Musa sudah tidak ada lagi dan tidak ada gunanya kita menyembah Tuhan Musa itu. Sekarang, mari kita sembah anak sapi yang diperbuatkan daripada emas ini. Ia dapat bersuara dan inilah tuhan kita yang patut disembah.”
Selepas itu, Musa kembali dan melihat kaumnya menyembah patung anak sapi. Ia marah dengan tindakan Samiri. Firman Allah: “Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: wahai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang baik? Apakah sudah lama masa berlalu itu bagimu (lupa?!) atau kamu menghendaki supaya kemurkaan Tuhanmu menimpamu?!, kerana itu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku.”
Musa bertanya kepada Samiri, seperti diceritakan dalam al-Quran: “Berkata Musa; apakah yang mendorongmu berbuat demikian Samiri? Samiri menjawab: Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam tanah (bekas tapak Jibril) lalu aku masukkan dalam patung anak sapi itu. Demikianlah aku menuruti dorongan nafsuku.”
Kemudian Musa berkata: “Pergilah kamu dan pengikutmu daripadaku, patung anak sapi itu akan aku bakar dan lemparkannya ke laut, sesungguhnya engkau akan mendapat siksa.”
Sifat-Sifat Koum Bani Israel
Keras kepala, hati mereka juga telah tertutup oleh kekufuran sehingga sanggup menyatakan keinginan melihat Allah, baru mau beriman. Firman Allah:"..dan ingatlah ketika kamu berkata: Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedangkan kamu menyaksikannya. Selepas itu Kami bangkitkan kamu selepas mati, supaya kamu bersyukur." (Al-Baqarah 2:55-56).
Telah banyak nikamat yang diberikan oleh Allah kepada mereka akan tetapi mereka kufur (tidak mau bersyukur). Nikmat-nikmat tersebut diantaranya adalah:
- Dibebaskan daripada kezaliman Firaun,
- Menjalani kehidupan di kawasan subur,
- Mempunyai Taurat dan rasul di kalangan mereka,
Malahan mereka banyak alasan dan membelakangi wahyu Allah kepada Musa supaya berpindah ke Palestina. Alasannya karena mereka takut menghadapi suku Kan’an. Sikap Bani Israel yang pengecut itu menyedihkan hati Musa, lalu dia berdoa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka pisahkanlah kami dari orang fasik yang mengingkari nikmat dan kurnia-Mu.”
Hukuman Bani Israel yang telah menolak perintah Allah itu adalah mereka diharamkan memasuki Palestina selama 40 tahun dan selama itu mereka berkeliaran di atas muka bumi tanpa tempat tetap. Mereka hidup dalam kebingungan sehingga semuanya musnah. Palestina kemudian dihuni oleh generasi baru.
Bani Israel juga menghina rasul mereka, yang dapat dilihat melalui kisah sapi seperti dalam surah al-Baqarah: “...dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih sapi betina. Mereka berkata; apakah kamu hendak menjadikan kami bahan ejekan...”
Jadi inilah cirikhas paling menonjol sifat koum Bani Israel:
- Keras kepala (ngeyelan)
- Banyak bertanya, sehingga pertanyaan mereka menyudutkan mereka sendiri.
Pertemuan Musa Dengan Orang Saleh
Ditengah-tengah khutbahnya Musa dihadapan Bani Isroil, ada salah seorang yang bertanya kepada Musa, dengan pertanyaannya, apakah ada manusia yang paling pandai saat ini. Musa hanya menjawab dialah orang yang pandai dimuka bumi ini.
Dengan pernyataan Musa inilah Allah Maha Mendengar siapa yang berkata baik dengan diucapkan maupun tidak. Allah langsung menegur Musa dengan firmanNya," Wahai Musa, Aku mempunyai hamba yang lebih pandai dari kamu" Setelah Musa mendapat teguran Allah, dia sangat terkejut dan dengan tunduk berkata," Dimanakah kami dapat bertemu hambaMu yang lebih pandai dari aku". Kemudian Allah menjawab," Hamba-Ku bisa ditemui disuatu tempat yang disebut Majma Al Bahrain." Dari sinilah awal pencarian Musa untuk bertemu hamba Allah yang lebih pandai darinya yang kita kenal dengan Nabi Khidir.
Dengan pernyataan Musa inilah Allah Maha Mendengar siapa yang berkata baik dengan diucapkan maupun tidak. Allah langsung menegur Musa dengan firmanNya," Wahai Musa, Aku mempunyai hamba yang lebih pandai dari kamu" Setelah Musa mendapat teguran Allah, dia sangat terkejut dan dengan tunduk berkata," Dimanakah kami dapat bertemu hambaMu yang lebih pandai dari aku". Kemudian Allah menjawab," Hamba-Ku bisa ditemui disuatu tempat yang disebut Majma Al Bahrain." Dari sinilah awal pencarian Musa untuk bertemu hamba Allah yang lebih pandai darinya yang kita kenal dengan Nabi Khidir.
Musa meninggal dunia ketika berusia 120 tahun, tetapi ada pendapat menyatakan usianya 150 tahun di Bukit Nabu’, tempat diperintahkan Allah untuk melihat tempat suci yang dijanjikan, yaitu Palestina, tetapi dia tidak sempat memasukinya.
Kisah Sepupu Musa
Dalam Al Qur'an surat Al-Qasas: 76-82, disebutkan bahwa ada salah seorang pengikut yang masih sanak famili Musa yang sangat kaya bahkan kunci istananya saja harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar, terlalu berat untuk dibawa oleh satu orang.. Singkat cerita Qarun awalnya adalah orang miskin sehingga meminta Musa untuk mendoakannya agar menjadi orang kaya, setelah terkabul dia ingkar bahkan tidak mau menyedekahkan hartanya bagi fakir miskin. Nasihat-nasihat Musapun tidak dipedulikannya.
Guna memberi pelajaran pada Qarun dan memberi contoh pada kaumnya, Musa memanjatkan doa agar Allah menurunkan azabnya pada diri hartawan itu. Allah lalu memberi azab dengan menguburkan semua harta kekayaan beserta diri Qarun melalui bencana tanah longsor yang dahsyat. Selain di dalam surah Al-Qasas, nama Qarun disebutkan di dalam surah Al-'Ankabut dan surah Al-Mu’min.
Referensi:
Referensi:
- Wikipedia Indonesia






