PENJELASAN
Test Mengerti Makalah (Reading Comprehension Test) bukanlah test membaca cepat, melainkan membaca sebagian makalah, biasanya 5-6 paragraf dengan 500-600 kata, sehingga terlalu pendek jika dianggap sebagai tes membaca cepat, selain itu juga terlalu panjang jika dianggap sebagai tes mengartikan kata perkata. Dalam tes ini diperlukan pengertian dari yang dibaca secara mendalam, dan akan lebih baik lagi jika mengerti materi yang diperbincangkan. Dalam tes ini, bisa berupa makalah ilmu sosial (sejarah, sosiologi, arkeologi, ekonomi, psikologi, dll.), ilmu pengetahuan alam (fisika, kimia, astronomi), biologi (kedokteran, botani, zoology, dll.) ilmu humanity (seni, sastra, filsafat, musik, dll.).
Tes mengerti makalah, dapat mengenai apa saja, tentu topik yang ditulis mengenai hal yang Anda mengerti, namun jika topik itu asing bagi Anda, maka hal itu akan menjadi sulit. Sebagai sarjana (S2 dan S3) diharapkan mampu membaca dan mengerti apa saja yang telah dibaca, sehingga seorang dokter mampu mengerti filsafat dan sejarah, sebaliknya sarjana (S2 dan S3) sastra seharusnya mampu membaca dan mengkritik tulisan mengenai nuklir atau kimia.
Pada umumnya, jawaban dari tes itu terdapat pada tulisan itu, dan tidak perlu benar diketahui, sebab maksud dari tulisan itu bukanlah menguji tentang ilmu pengetahuan Anda terhadap subjek tersebut.
Selain itu, ciri tes ini adalah tanpa judul, sehingga Anda diminta memberikan judulnya, karena hal itu sering tidak jelass bidang apa yang diperbincangkan. Pengambilan bahanpun terkadang sembaran, memenggal, mengedit makalah itu sedemikan rupa, sehingga tidak jelas awalnya dan tidak mengerti akhirnya. Akan tetapi dibalik itu semua, jawaban soal ada pada tulisan itu sendiri.
Pada umumnya, pertanyaan yang diberikan dapat dikategorikan pada pertanyaan mengenai ide pokok tulisan, pertanyaan yang mendetail, logika dari tulisan, yaitu apakah pengarang menulis secara logis atau tidak, tujuan penulisan, implikasi dari tulisan dan tekanan serta warna dari tulisan itu sendiri. Selain itu Anda diminta pula apakah tulisan itu bersifat membeberkan fakta dengan analisis yang logis, atau opini penulis tanpa didukung oleh fakta. Apakah tulisan itu bersifat informatif, atau bersifat inisuasi dan agitatif.
Perlu diingat bahwa tes ini adalah untuk mengerti makalah yang dibaca, bukan untuk mengerti ilmu pengetahuan dari sumber tulisan. Contoh di bawah ini diambil dari sejarah, tetapi bukan ilmu sejarah, namun persepsi Anda tentang tulisan tersebut.
LATIHAN
Waktu Anda adalah 15 menit.
Bacalah kutipan makalah ini dengan seksama, setelah itu jawablah petanyaan diakhir makalah ini, gunakan waktu sebaik-baiknya!
Peristiwa bisa diurut pertama bisa di samping atau di atas yang lain dalam suatu susunan. Dari padanya muncul alur-alur yang menjadi benang merah yang disebut cerita. Bilamana cerita tersebut bukan dongeng dalam dunia khayalan, akan tetapi tentang peristiwa masa lalu, dan terutama tentang apa sesungguhnya rupa masa lalu itu, maka hampir semua orang setuju menyebutnya sejarah. Maka dalam sejarah ada sususnan fakta, urutan kejadian satu sesudah yang lain. Namun ternyata sejarah semata-mata urutan fakta. Bila sejarah semata-mata difahami sebagai kronik, maka sudah dari mula cakrawalanya dipersempit. Sejarah dalam pengertian kronik ini menjadi statis.
Sejarah lebih dari sekedar kronik, karena dalam sejarah juga terkandung pikiran yang hidup dari dan tentang masa lampau. Dalam hubungan itu tegas historiografi bukan saja mencari kebenaran masa lalu (what the past is really like), akan tetapi berdasarkan itu memperbandingkan dengan masa kini. Dan agaknya Benedetto Croce, sejarahwan Italia, tidak terlalu jauh meleseat dari apa yang ia katakan bahwa sejarah yang benar adalah sejarah masa kini. Dia bukan lagi fakta, tetapi sejarah menjadi proses interaksi yang tidak berkeputusan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain di masa kini yang mengambil dimensi kelampuan dan kekinian, dan sejarah juga merupakan proses dialog antara manusia masa lampau dan manusia masa kini. Maka sejarah tampil sebagai suatu totalitas.
Namun, cara bagaimana dialog berlangsung sering membangkitkan masalah, struktur sosial dan politik masyarakat masa kini, sangat menentukan corak, atau lebih tepatnya dimensi sejarah ditulis. Bilamana sejarah yang dibangkitkan oleh sejarah dapat memperkaya kepribadian nasional, bilamana dialog dalam sejarah mampu merumuskan bagi tantangan masa kini, maka dialog dengan sejarah menemukan bentuknya. Sejarah yang diambil dalam arti ini sebenarnya tidak leibh dari usaha mencari legitimasi. Dan bila demikian halnya, maka sejarah bukan lagi proses dialogia tetapi monologia, dimana masa lampau bukan lagi pendamping melainkan ditaklukan. Monologia terjadi bila kepentingan menjadi segalanya. Berdasarkan kepentingan, peran yang dulu pernah dimainkan dilebih-lebihkan, maka sejarah menjadi sama keringnya seperti sejarah dalam arti kronik.
Siapakah dalam tingkatan sekarang memutuskan bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan bersenjata dan bukan diplomasi? Sebaliknya siapakah yang berani mengatakan bahwa semata-mata kemerdekaan direbut oleh diplomasi dan bukan dengan perjuangan bersenjata? diskusi tentang ini mungkin berjalan tak berujung.
Namun, yang bisa diamati adalah bahwa struktur sosial dan politik masa kini memegang peran menentukan jenis konfigurasi fakta-fakta yang berbeda di sekitar kemerdekaan. Fakta mencair. Titik berat historis bergeser warna karena kemerdekaan menjadi sumber tertinggi dalam memberikan legitimasi bagi setiap kelompok yang berusaha menjadi penguasa. Setiap kali orang berusaha mematikan dialog dalam sejarah, kelihatan bahwa sejarah telah diturunkan menjadi hanya sebuah kronik kering yang tidak menggairahkan. Dalam hal tersebut bisa sedemikian rupa sehingga susah membangkitakan semangat kepahlawanan menjadi penting.
Sejarah kemerdekaan adalah episode dalam sejarah yang paling banyak mengalami penulisan ulang. Ditilik dari sejarah sebagai dialogis penulisan ulang adalah menarik, karena dalam setiap proses penulisan ulang tersebut tercatat pula perkembangan baru yang tadinya tidak dilihat. Pernah ada saat dimasa masa diseputar merebut dan mempertahankan kemerdekaan disebut revolusi. Namun kata itu saat ini tidak lagi mendapat tempat, tetapi diganti dengan perang kemerdekaan dan setiap saat divisualisasikan sebagai perang. Pergeseran ini bukan saja menunjukan sejarah, yaitu memutar balikan proses dan membuatnya hanya menjadi satu arah sedemikian rupa menjadi monologia. Namun bilamana hal ini barlangsung atau kepentingan legitimasi berada di atas segalanya sehingga dialog dengan sejarah akan terputus, maka sekali lagi sejarah mengalami penyempitan cakrawala. Fakta menjadi identik dengan keberhasilan, dan setiap keberhasilan menjadi legitimasi baru. Tetapi dengan itu, dia membunuh dialog. Dan setiap kali dialog dengan sejarah dimatikan, maka sejarah bukan lagi sejarah.
Daniel Dhakidae
(Bahan: Prisma, Agustus 1980)
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat berdasarkan cerita diatas!
1. Bilamana cerita bukan dongeng dalam dunia khayalan, akan tetapi tentang peristiwa masa lalu, dan terutama tentang apa sesungguhnya rupa masa lalu itu, maka disebut:
2. Bila dalam sejarah hanya ada susunan fakta, urutan kejadian satus sesudah yang lain, maka sejarah itu difahami sebagai:
3. Cerita si Maling Kundang dari Sumatera Barat dapat dimasukan dalam kategori:
4. Menurut penulis cakrawala sejarah yang dipersempit menimbulkan pengertian sejarah yang statis, artinya sejarah:
5. Para ahli sejarah menyarankan bahwa, sejarah yang benar adalah:
6. "Pikiran yang hidup" dalam sejarah dimungkinkan sebab peristiwa-peristiwa dalam sejarah merupakan:
7. Dalam tulisan di atas, penulis berkesimpulan bahwa dalam sejarah Indonesia, kemerdekaan adalah hasil dari:
8. Titik berat historis bergeser warna karena kemerdekaan menjadi sumber tertinggi dalam memberikan legitimasi bagi setiap kelompok yang berusaha menjadi penguasa. Kesimpulan penulis tidak benar karena:
9. Sejarah Indonesia abad ke-20 yang paling banyak perkembangan ditulis kembali adalah kedade:
10. Usaha mencari legitimasi adalah usaha mencari:
11. Perkataan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dulu disebut revolusi, kini kata itu diganti dengan perang kemerdekaan. Pergantian itu desebabkan karena:
12. Menurut uraian tersebut, sejarah Indonesia yang semakin banyak versinya adalah bagian sejarah yang penting bagi:
13. Menurut penulis, salah satu cara menaklukan sejarah dilakukan oleh penulis versi baru adalah:
14. Penulis mengatakan bahwa fakta menjadi identik dengan litania keberhasilan, karena:
15. Uraian tersebut menekankan bahwa titik berat sejarah ada pada:
- legenda
- prosa
- berita
- puisi
- histori-
2. Bila dalam sejarah hanya ada susunan fakta, urutan kejadian satus sesudah yang lain, maka sejarah itu difahami sebagai:
- histori
- kronik-
- legenda
- dongeng
- epos
3. Cerita si Maling Kundang dari Sumatera Barat dapat dimasukan dalam kategori:
- histori
- kronik
- legenda-
- dongeng
- epos
4. Menurut penulis cakrawala sejarah yang dipersempit menimbulkan pengertian sejarah yang statis, artinya sejarah:
- Merupakan catatan angka-angka mati-
- Adalah hanya gambaran masa lalu
- Tidak dapat diinterprestasikan lain
- Tidak berkaitan dengan perubahan
5. Para ahli sejarah menyarankan bahwa, sejarah yang benar adalah:
- Menceritakan kejadian masa lalu yang tidak dapat dibantah
- Pandangan manusia masa kini terhadap masa lampau-
- Interaksi manusia masa kini dan manusia masa lampau yang nyata
- Dimensi masa lampau yang diterapkan dalam masa kini
- Menceritakan masa lampau dengan versi masa kini
6. "Pikiran yang hidup" dalam sejarah dimungkinkan sebab peristiwa-peristiwa dalam sejarah merupakan:
- Pengalaman manusia hidup
- Kebenaran masa lalu yang nyata
- Berhubungan dengan masa kini
- Dialog antara manusia dan manusia
- Perbandingan peristiwa manusiawi-
7. Dalam tulisan di atas, penulis berkesimpulan bahwa dalam sejarah Indonesia, kemerdekaan adalah hasil dari:
- Semata-mata hasil perjuangan bersenjata
- Semata-mata hasil perjuangan diplomasi
- Hasil dari diplomasi dan perjuangan bersenjata-
- Hasil dari diskusi beberapa Negara
- Penekanan dari Negara Adikuasa
8. Titik berat historis bergeser warna karena kemerdekaan menjadi sumber tertinggi dalam memberikan legitimasi bagi setiap kelompok yang berusaha menjadi penguasa. Kesimpulan penulis tidak benar karena:
- Legitimasi penguasa didapat dari hasil dukungan rakyat banyak-
- Legitimasi penguasa didapat dari kekuatan bersenjata
- Legitimasi penguasa didapat dari sokongan Negara Adikuasa
- Legitimasi penguasa didapat dari dukungan mahluk halus
9. Sejarah Indonesia abad ke-20 yang paling banyak perkembangan ditulis kembali adalah kedade:
- 1910-1919
- 1920-1929
- 1930-1939
- 1940-1949-
- 1950-1959
10. Usaha mencari legitimasi adalah usaha mencari:
- Dukungan rakyat
- Alat pembenar-
- Dukungan pengacara
- Taklukan hukum
- Dukungan resmi
11. Perkataan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dulu disebut revolusi, kini kata itu diganti dengan perang kemerdekaan. Pergantian itu desebabkan karena:
- Perkataan lama kurang modern
- Perkataan lama berkonotasi kekuatan politik-
- Perkataan lama berbau komunis
- Karena kemerdekaan memang dihasilkan oleh perang kemerdekaan semata
12. Menurut uraian tersebut, sejarah Indonesia yang semakin banyak versinya adalah bagian sejarah yang penting bagi:
- Kebanggaan nasional
- Kepribadian bangsa
- Kelestarian kemerdekaan
- Kesahihan kekuasaan
- Penghargaan kepahlawanan-
13. Menurut penulis, salah satu cara menaklukan sejarah dilakukan oleh penulis versi baru adalah:
- Memperbesar peran seorang tokoh-
- Menghilangkan jasa seorang pahlawan
- Memutarbalikkan peristiwa lampau
- Mengganti jenis permainan fakta
- Membangkitkan rumusan kepentingan
14. Penulis mengatakan bahwa fakta menjadi identik dengan litania keberhasilan, karena:
- Terbunuhnya dialog-
- Ada legitimasi baru
- Sejarah tidak benar lagi
- Yang tidak berhasil bukan lagi fakta
- Fakta yang berhasil didengungkan lagi
15. Uraian tersebut menekankan bahwa titik berat sejarah ada pada:
- Peristiwa masa lampau
- Peristiwa masa kini
- Urutan peristiwa yang benar
- Kebenaran masa kini-
- Kebenaran masa lampau