Saat-Saat Penuh Rahmat

Saat-Saat Penuh Rahmat
Saat-Saat Penuh Rahmat
Bagai kerontangnya bumi karena kemarau panjang, sebagian diri ini sedang dahaga rohani, lebih dari sekadar formalitas ritual agama. Kekecewaan dengan amat jelas menunjukkan ada sesuatu yang harus dibenahi sehubungan dengan fondasi hidup.

Penderitaan dengan jelas menyingkapkan bahwa ada yang melenceng dari persepsi terhadap hakikat hidup diri ini. Di tengah kemelut ketidakpuasan, hasutan, kerusuhan, penghancuran, kejahatan, diri ini merasa semakin takut. Mulai dari rasa takut kehilangan pekerjaan - yang berarti hilang penghasilan - sampai rasa takut pada kematian. Di sisi lain, diri ini mungkin bersih dari tindak perusakan atau pembunuhan, tetapi terselip keberingasan dan kebencian di dalam hati yang diri ini sembunyikan di balik "topeng" kepalsuan.

Stop segala kegilaan ini! peluk kegilaan lain: gila cinta kasih. Susuri kembali jalanNya karena Dialah sumber kesembuhan bagi segala keresahan diri. Memang, warna hidup senantiasa tergantung pada rona "kacamata" yang terpasang. "Kacamata" kelabu mengubah segala sesuatu tampak serba kelabu. Hidup pun tertatap suram. "Kacamata" bening menjadikan segala sesuatu tampak serbacerah. Hidup pun terpantul indah. "Kacamata" buruk sangka dan kebencian menjerumuskan diri ini ke dalam hidup penuh rasa dendam dan curiga. "Kacamata" kedamaian akan membimbing diri ini ke dalam hidup penuh kedamaian.

Hidup tentu menjadi baik kalau dipandang dari sudut yang baik. Berpikir baik tentang diri ini, berpikir baik tentang orang lain, berpikir baik tentang keadaan, berpikir baik tentang Tuhan. Berpikir baik niscaya berbuah baik. Relasi antar anggota keluarga dipenuhi kehangatan. Relasi antarkawan diwarnai rasa saling percaya. Relasi antartetangga dijalini keakraban. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah.

Kesadaran akan semua itu pastilah harus ditumbuhkan, berbareng niat yang bulat untuk mewujudkannya. Memperkuat diri dengan keimanan dan hati nurani, itulah jalan penuh rahmat. Bercakap-cakaplah dengan Tuhan berdua. Setelah itu, ajaklah saudara kemudian teman. Sertakan pula "musuh" untuk ikut bercengkerama bersama denganNya. Lalu, baurkan diri dengan kenyataan. Hadapi angkara murka dengan pelukan persahabatan. Ringankan hati untuk memaafkan kekhilafan.

Setelah itu mudah-mudahan kita semua terbebas dari segala kegilaan ini. Semoga Tuhan selalu bersama kita

(Siraman-Rohani) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال