![]() |
| Budaya dan Regulasi Setempat |
Selain belajar, kamu juga harus bersosialisasi dengan masyarakat dan budaya setempat khan? Nah, inilai saatnya bagi kamu untuk mempelajari hal-hal baru dalam hidupmu. Melanjutkan kuliah di luar negeri juga “sedikit” memaksa kita untuk berinteraksi dengan budaya dan masyarakat setempat. Masalah perbedaan budaya, seringkali menjadi kendala apabila tidak disikapi dengan benar. Sebagai contoh, orang Jepang sangat menghargai bentuk-bentuk penggunaan kata humble (merendahkan diri dan menunjukkan kalimat penghormatan untuk lawan bicara). Mereka akan sangat menghormati kita apabila kita mampu menyapa mereka dalam bahasa mereka, meskipun hanya sedikit dari bahasa mereka yang kita mengerti.
Mas Abdi Pratama, salah seorang rekan yang sedang belajar di Osaka University, Jepang bercerita, ia selalu menggunakan bahasa Jepang di awal perkenalannya dengan profesor Jepang saat sedang mencari beasiswa. Meskipun hanya sepatah dua patah kata, seperti Watashi wa Abdi Pratama desu, Gadjah Mada Daigaku de benkyou-shimasu, dan Arigatou Gozaimasu, namun efek dari penggunaan kata-kata itu lebih dalam daripada sekedar kata-kata, thank you, atau nice to meet you.
Selain masalah kata-kata humble, kita juga perlu memperhatikan keseharian dan kebiasaan yang dilakukan orang-orang Jepang. Menanyakan agama dan umur adalah sesuatu yang dianggap tabu apabila kita tidak benar-benar mengenal orang tersebut. Alih-alih menjadi akrab, justru kita bisa menyinggung perasaan mereka. Contoh yang lain adalah, memanggil nama mereka. Orang Jepang biasanya memiliki dua nama, yakni nama kecil atau nama asli (surname) dan nama keluarga (family name). Orang Jepang dewasa biasanya akan memanggil seseorang dengan nama keluarga yang diikuti dengan partikel “-san” sebagai pengganti dari sebutan “Mr.” atau “Ms.”. Seorang Jepang yang bernama Takeshi Yamamoto biasanya akan dipanggil dengan nama Yamamoto-san, kecuali ia mengijinkan kita memanggilnya dengan sebutan Takeshi-san.
Kita juga harus mengenal peraturan dan regulasi setempat. Jangan kaget, jika suatu saat Anda masuk ke Bandara Internasional Changi, Singapura dan Anda diinterograsi 1-2 jam di kantor imigrasi. Ya, Singapura memang terkenal sangat ketat mengawasi arus wisatawan dan pelajar asing yang masuk ke negara mereka sejak menghangatnya berita terorisme di kawasan Asia Tenggara.
Pengalaman lain, salah seorang rekan yang belajar di USA juga mengalami hal yang sama di kantor imigrasi. Pasalnya satu, ia adalah warga negara Indonesia dan semua orang yang berasal dari Indonesia layak dicurigai dan diperiksa dengan UU terorisme! Tapi itu semua harusnya nggak menghalangi niat kamu untuk melanjutkan studi dan berburu beasiswa ke luar negeri. Selama ada kemauan, di sana ada jalan. Budaya dan bahasa nggak boleh jadi rintangan. Justru hal itu adalah tantangan yang harus kita taklukkan. Gali dan cari info sebanyak-banyak tentang budaya, regulasi dan isu yang berkembang di negara tujuan kamu.
