![]() |
| Menulis Surat Untuk Profesor |
Biasanya, seorang profesor akan mencantumkan alamat kantor atau alamat email resmi untuk korespondensi. Kamu bisa mendapatkan informasi ini dari halaman web universitas tempat profesor tersebut bekerja atau dari lembaga penelitian yang dipimpin oleh profesor tersebut. Sebelum kamu menulis surat untuk calon pembimbingmu, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan!
Pastikan kamu tahu benar minat riset kamu. Tentu sebelumnya kamu pernah membuat penelitian untuk skripsi S1, bukan? Nah, kamu bisa menggunakan tema yang hampir serupa atau lebih mendetail dari tema skripsi S1 kamu. Jika kamu adalah asisten di sebuah laboratorium, kamu bisa mencari tema riset yang sesuai dari dosen pembimbing di lab kamu saat ini. Tanyakan kepada beliau tema riset yang cocok untuk dikembangkan sebagai tesis S2 atau S3 kamu.
Baca tema riset yang ditawarkan oleh profesor kamu. Sesuaikah tema riset yang beliau tawarkan dengan minat kamu? Jika profesor kamu adalah seorang yang bermurah hati, beliau akan menyediakan link-link tema penelitian atau jurnal-jurnal yang dihasilkan oleh lab yang dipimpinnya. Dengan membaca jurnal hasil penelitiannya, kamu akan mendapatkan gambaran yang cukup tentang perkembangan riset yang dilakukan di lab tersebut.
Apakah beliau mahir berkorespondensi dengan bahasa Inggris? Ini juga perlu diperhatikan, lho! Tidak semua profesor mahir berkorespondensi dengan bahasa Inggris. Cara paling sederhana untuk mengetahuinya adalah, lihat halaman web profesor kamu! Jika beliau tidak menyediakan link dalam bahasa Inggris, alias beliau membuat web hanya dengan bahasa nasional negaranya, itu berarti kamu harus sedikit waspada untuk urusan bahasa. Tapi kamu jangan berkecil hati dulu. Kamu bisa juga mengetahui kemampuan bahasa Inggris profesor kamu dengan mengetahui berapa jumlah seminar internasional yang pernah beliau ikuti. Jika beliau cukup aktif menjadi pembicara di seminar internasional, kamu boleh menarik nafas lega. Setidaknya, secara verbal profesor kamu cukup mahir untuk berbahasa Inggris.
Lalu, gimana caranya jika halaman web-nya ditulis tidak dalam bahasa Inggris? Mudah! Gunakan translator bahasa online yang disediakan oleh Google atau situs lainnya. Cukup ketikkan “Google Translate” atau “Google Translator” di form pencarian. Setelah kamu temukan web-nya, masukkan potongan kalimat yang akan kamu terjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau alamat web profesor tersebut. Kamu bisa juga menggunakan http://babelfish.altavista.com untuk menerjemahkan website berbahasa asing ke dalam bahasa Inggris.
Buat proposal riset singkat yang menunjukkan rencana riset kita ke depan. Jika masih bingung, kamu bisa membaca bab lain di buku ini yang menerankan tentang pembuatan proposal riset. Beasiswa S2 dan S3 di beberapa negara sebagian besar ditempuh dengan riset. Kirimkan proposal riset kita beserta email kita.
Tunjukkan bahwa kita berkompeten di bidang riset yang ingin kita tekuni di sana. Hal ini bisa kita tekankan pada Curriculum Vitae kita dan ceritakan bahwa kita sudah membaca banyak paper dan jurnal untuk meyakinkan bahwa kita mampu mengerjakan riset di lab tersebut.
Beberapa profesor sangat sensitif dengan masalah kata-kata dan etika, terutama profesor Jepang. Orang Jepang layaknya orang Jawa. Mereka sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pastikan bahwa kita menggunakan bahasa Inggris yang sopan saat mengirimkan email kepada profesor kita. Jangan lupa, perkenalkan diri di awal email. Jelaskan siapa kita, dari universitas mana, kota dan negara apa. Bahkan kalau perlu, jelaskan pula prestasi kita secara singkat namun jelas dan mengapa kita tertarik untuk bergabung ke lab tersebut. Jangan lupa mengucapkan terima kasih dan tuliskan kontak person kita di akhir surat kita.
Jangan lupa menuliskan subject di email secara spesifik dengan kalimat yang memperjelas isi email. Jangan menuliskan subjek email terlalu pendek, misal dengan kalimat : “Need Information about Scholarship”, “Study in Japan” atau kalimat lain yang kurang relevan. Bisa dipastikan, profesor tersebut akan memasukkan email kita ke direktori spam. Kamu bisa menulis subject email dengan formula berikut ini : <nama kamu> : <nama universitas asal kamu> - <nama beasiswa> <nama tahun ajaran/fiscal year> for <Research Student/Master/Doctoral Degree> in <nama universitas tujuan kamu>. Terlalu panjang? Nggak masalah, kok. Hal itu, sekali lagi, untuk membedakan email kita dengan email dari spammer.
Beberapa professor yang dahulu pernah saya hubungi mempermasalahkan dan menanyakan kemampuan berbahasa Jepang saya saat itu. Tentu ini sedikit mempersulit langkahmu jika terjadi hal yang sama. Ada baiknya pula, jika kamu memang sudah berminat untuk studi ke Jepang atau ke negara dengan bahasa nasional bukan bahasa Inggris, kamu memperdalam kemampuan bahasa asingmu di Indonesia.
Beberapa profesor tidak langsung menjawab email kamu. Artinya, kamu harus bersabar menunggu 2-4 minggu. Saya sendiri mendapatkan jawaban dari seorang profesor dalam waktu 1 bulan lebih beberapa hari. Ada baiknya kamu tidak hanya mengirimkan email ke satu orang profesor saja. Cari profesor lain yang menawarkan tema riset yang sesuai dengan minat kamu dan tetaplah berusaha menjalin korespondensi.
Beberapa profesor ada yang menguji kemampuan kita dengan mengirimkan soal-soal ujian masuk universitas tersebut. Ya, itu terjadi pada diri saya saat melakukan kontak dengan seorang profesor di Jepang. Ceritanya, waktu itu dia bilang ke saya untuk kontak ke Associate Professor di lab-nya. Istilahnya profesor pendamping gitu. Waktu saya email ke dia, ternyata saya dikasih soal ujian masuk universitas yang seabreg, suruh ngerjain semua. Celakanya, semua soal ujian itu berbahasa Jepang. Langsung lemes deh…..hehehe. Jika itu yang terjadi, tetap kerjakan soal tersebut sebisa kita dalam waktu singkat. Ceritakan bagaimana pendapat kamu tentang soal tersebut dan berapa waktu yang kamu perlukan untuk menerjemahkan dan mengerjakan tiap pertanyaan.
Tulis hasilnya dan kirimkan dengan email ke profesor tersebut. Satu hal yang ingin dilihat oleh pembimbing kita adalah : seberapa besar kesungguhan dan kemauan kita untuk menghadapi beratnya tantangan dan kerasnya persaingan di lab tersebut.
Ada juga profesor lain yang saya kirimi email, menjawab bahwa dia tidak bisa membimbing karena kesibukannya untuk seminar dan proyek di luar Jepang. Berkali-kali ditolak, tidak membuat saya kapok untuk terus berburu pembimbing di Jepang. Beberapa email di antaranya bahkan tidak dijawab sama sekali. Setelah berpuluh-puluh email saya layangkan, ada salah seorang professor di salah satu
universitas yang bersedia menerima saya, dengan catatan saya harus mencari beasiswanya sendiri. Jika saya sudah mendapatkan beasiswa, ia bersedia untuk menerima saya sebagai mahasiswa S2 di labnya. Saat membuka email tersebut dan membaca, rasanya ada kebahagiaan tersendiri. Saya mendapatkan calon pembimbing pada bulan Maret 2008 sehingga kalau ditotal sekitar enam bulan untuk mendapatkan pembimbing. Sebagai catatan, saya sama sekali tidak memiliki koneksi orang Indonesia atau dosen yang langsung berhubungan dengan profesor-profesor yang saya hubungi atau dengan kata lain saya benar-benar memulainya dari nol. Kata kunci dari proses mencari pembimbing ini adalah : tetap semangat dan jangan mudah putus asa. Kalau memang rejeki, insya Allah ikhtiar kita akan ada hasilnya.
